Tampui atau tampoi (Baccaurea macrocarpa) adalah sejenis buah dan pohonnya, anggota suku Phyllanthaceae (dulu: Euphorbiaceae). Buah ini masih sekerabat dengan menteng dan rambai, namun berukuran
lebih besar dan berkulit lebih tebal. Juga dikenal dengan nama-nama lain
seperti di Malaysia: merkeh (Kelantan); ngeke, lara, rambai, tampoi
batang, tampoi, tampui. Di Sumatra: tampui daun, tampui bulan, tampui
benar, tampoi saya; Bangka: medang, tampui. Di Kalimantan: Pasin; pegak
(Dayak Tunjung); puak, tampoi (Iban); setai (Kenyah); jentikan (Kutai);
tampoi (Kedayan); buah setei, empak kapur, kapul, terai. Dalam bahasa
Inggris: Greater tampoi.
Ciri ciri umum
Pohon kecil
berumah dua (dioesis); tinggi hingga 27 m dan gemang hingga 64 cm,
batang tampui kerap beralur-alur dalam hingga setinggi 5 m.
Kadang-kadang berbanir kecil dan rendah.
Daun-daun tersebar,
daun penumpu panjang hingga 9 mm. Helaian daun jorong hingga bundar
telur atau bundar telur sungsang, (7,2–)9–37 × 3,1–17,5 cm, bertangkai
panjang hingga 14,5 cm. Perbungaan kebanyakan muncul pada cabang
(ramiflory) atau pada batang (cauliflory), tandan bunga jantan panjang
hingga 13 cm, yang betina hingga 18 cm, bercabang-cabang. Bunga-bunga
berukuran kecil, yang jantan dengan diameter hingga 2 mm, hijau, kuning,
atau putih; yang betina sedikit lebih besar hingga 4,5 mm.
Buah-buah terangkai dalam tandan panjang hingga 15 cm, dengan tangkai
setebal 4-6 mm. Berbentuk bulat atau hampir bulat, buah tampui merupakan
buah kotak berdinding tebal mengayu, coklat hingga kelabu di bagian
luar, berukuran 30–65 × 34–75 × 34–75 mm. Berbiji (2–) 3–6 butir, yang
tertutup oleh salut biji berwarna putih hingga kuning, kadang-kadang
jingga.
Ekologi
Tampui menyebar di Semenanjung
Malaya, Sumatra, dan Kalimantan[2]. Ditemukan tumbuh hingga ketinggian
1.600 m dpl., tumbuhan ini hidup liar di hutan-hutan dataran rendah,
hutan riparian, hutan rawa, dan juga hutan sekunder, di atas tanah-tanah
liat merah atau liat berpasir[1]. Tampui juga banyak ditanam di
wanatani, bercampur dengan aneka tanaman buah dan kayu lainnya.
Batang Tampui tanaman Kakek...
Pada desa Jiwa baru, kec. Lubai, kab. Muara Enim, prov. Sumatera
Selatan... ada sebatang pohon Tampoi tumbuhan subur ditanaha warisan
kakek Haji Hasan. Saat itu umurku masih usia 10 tahun, masih kanak-kanak... perjumpaan dengan buah Tampui bagiku adalah yang pertama kali. Kulit
buahnya berwarna oranye tua seperti warna kulit sang datuk belang.
Ukuran dan isi buahnya seperti manggis. Isi buahnya ada 4-6 biji,
tergantung besar buahnya. Rasa buah Tampui manis dan sedikit pahit.
Sembari mencicipi buah Tampui ini aku
berpikir, betapa banyaknya sumber-sumber kehidupan yang disediakan oleh
hutan yang dapat dimanfaatkan oleh kita, manusia. Udara yang segar, air
yang begitu jernih, pemandangan yang indah, buah-buahan pemberi energi
dan vitamin, ikan sungi yang lezat, kayu, akar serta rotan, burung
dengan kicauan dan warnanya yang beraneka, gerak-gerik serta suara satwa
liar yang misterius sekaligus membuat takjub, semua.. semua ada ketika
hutan masih alami, masih utuh, tidak terganggu ataupun rusak.
Sumber : amarlubai.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar