Selasa, 25 Agustus 2015

Tampoi

 
 

Tampui atau tampoi (Baccaurea macrocarpa) adalah sejenis buah dan pohonnya, anggota suku Phyllanthaceae (dulu: Euphorbiaceae). Buah ini masih sekerabat dengan menteng dan rambai, namun berukuran lebih besar dan berkulit lebih tebal. Juga dikenal dengan nama-nama lain seperti di Malaysia: merkeh (Kelantan); ngeke, lara, rambai, tampoi batang, tampoi, tampui. Di Sumatra: tampui daun, tampui bulan, tampui benar, tampoi saya; Bangka: medang, tampui. Di Kalimantan: Pasin; pegak (Dayak Tunjung); puak, tampoi (Iban); setai (Kenyah); jentikan (Kutai); tampoi (Kedayan); buah setei, empak kapur, kapul, terai. Dalam bahasa Inggris: Greater tampoi.

Ciri ciri umum

Pohon kecil berumah dua (dioesis); tinggi hingga 27 m dan gemang hingga 64 cm, batang tampui kerap beralur-alur dalam hingga setinggi 5 m. Kadang-kadang berbanir kecil dan rendah.

Daun-daun tersebar, daun penumpu panjang hingga 9 mm. Helaian daun jorong hingga bundar telur atau bundar telur sungsang, (7,2–)9–37 × 3,1–17,5 cm, bertangkai panjang hingga 14,5 cm. Perbungaan kebanyakan muncul pada cabang (ramiflory) atau pada batang (cauliflory), tandan bunga jantan panjang hingga 13 cm, yang betina hingga 18 cm, bercabang-cabang. Bunga-bunga berukuran kecil, yang jantan dengan diameter hingga 2 mm, hijau, kuning, atau putih; yang betina sedikit lebih besar hingga 4,5 mm.

Buah-buah terangkai dalam tandan panjang hingga 15 cm, dengan tangkai setebal 4-6 mm. Berbentuk bulat atau hampir bulat, buah tampui merupakan buah kotak berdinding tebal mengayu, coklat hingga kelabu di bagian luar, berukuran 30–65 × 34–75 × 34–75 mm. Berbiji (2–) 3–6 butir, yang tertutup oleh salut biji berwarna putih hingga kuning, kadang-kadang jingga.

Ekologi

Tampui menyebar di Semenanjung Malaya, Sumatra, dan Kalimantan[2]. Ditemukan tumbuh hingga ketinggian 1.600 m dpl., tumbuhan ini hidup liar di hutan-hutan dataran rendah, hutan riparian, hutan rawa, dan juga hutan sekunder, di atas tanah-tanah liat merah atau liat berpasir[1]. Tampui juga banyak ditanam di wanatani, bercampur dengan aneka tanaman buah dan kayu lainnya.

Batang Tampui tanaman Kakek... 

Pada desa Jiwa baru, kec. Lubai, kab. Muara Enim, prov. Sumatera Selatan... ada sebatang pohon Tampoi tumbuhan subur ditanaha warisan kakek Haji Hasan. Saat itu umurku masih usia 10 tahun, masih kanak-kanak... perjumpaan dengan buah Tampui bagiku adalah yang pertama kali. Kulit buahnya berwarna oranye tua seperti warna kulit sang datuk belang. Ukuran dan isi buahnya seperti manggis. Isi buahnya ada 4-6 biji, tergantung besar buahnya. Rasa buah Tampui manis dan sedikit pahit. 

Sembari mencicipi buah Tampui ini aku berpikir, betapa banyaknya sumber-sumber kehidupan yang disediakan oleh hutan yang dapat dimanfaatkan oleh kita, manusia. Udara yang segar, air yang begitu jernih, pemandangan yang indah, buah-buahan pemberi energi dan vitamin, ikan sungi yang lezat, kayu, akar serta rotan, burung dengan kicauan dan warnanya yang beraneka, gerak-gerik serta suara satwa liar yang misterius sekaligus membuat takjub, semua.. semua ada ketika hutan masih alami, masih utuh, tidak terganggu ataupun rusak.

Sumber : amarlubai.blogspot.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar