Nama : Sawo manila, Nama lain : Sawe Manile (Lubai), Sawo (Jawa)
Chico (Filipina), Ciku (Malaysia), Chikoo atau sapota (India), Sofeda
(Bangladesh), Xa pô chê atau hồng xiêm (Vietnam), Rata-mi (Sri Lanka),
Lamoot (ละมุด) di Thailand, Laos dan Kamboja, Níspero (Venezuela),
Sugardilly (Kep. Bahama), Naseberry (Hindia Barat), Sapote (Nicaragua),
Sapoti (Brazil), Sapotillier (bahasa Perancis) dan Sapodilla (bahasa
Inggris).
Ciri umum :
Sawo tumbuh hingga 3-4 m tinggi. Ini
adalah tahan angin dan kulit kayu kaya putih, bergetah lateks disebut
kunyahan. Hias daun yang sedang hijau dan mengilap. Mereka adalah
alternatif, elips untuk ovate, 7-15 cm, dengan seluruh marjin. Putih
bunga yang mencolok dan lonceng seperti, dengan enam lobed corolla.
Pohon-pohon hanya dapat bertahan hidup dalam hangat, biasanya
lingkungan tropis, sekarat mudah jika suhu turun di bawah titik beku.
Dari perkecambahan, maka pohon sawo biasanya akan mengambil mana-mana
5-8 tahun untuk menghasilkan buah. Sawo pohon-pohon yang menghasilkan
buah dua kali setahun, meskipun mungkin terus berbunga sepanjang tahun.
Pohon yang besar dan rindang, dapat tumbuh hingga setinggi 30-40 m. Bercabang rendah, batang sawo manila berkulit kasar abu-abu kehitaman sampai coklat tua. Seluruh bagiannya mengandung lateks, getah berwarna putih susu yang kental.
Daun tunggal, terletak berseling, sering
mengumpul pada ujung ranting. Helai daun bertepi rata, sedikit berbulu,
hijau tua mengkilap, bentuk bundar-telur jorong sampai agak lanset,
1,5-7 x 3,5-15 cm, pangkal dan ujungnya bentuk baji, bertangkai 1-3,5
cm, tulang daun utama menonjol di sisi sebelah bawah.
Bunga-bunga
tunggal terletak di ketiak daun dekat ujung ranting, bertangkai 1-2 cm,
kerapkali menggantung, diameter bunga s/d 1,5 cm, sisi luarnya berbulu
kecoklatan, berbilangan 6. Kelopak biasanya tersusun dalam dua
lingkaran; mahkota bentuk genta, putih, berbagi sampai setengah panjang
tabung.
Buah buni bertangkai pendek, bulat, bulat telur atau
jorong, 3-6 x 3-8 cm, coklat kemerahan sampai kekuningan di luarnya
dengan sisik-sisik kasar coklat yang mudah mengelupas, sering dengan
sisa tangkai putik yang mengering di ujungnya. Berkulit tipis, dengan
daging buah yang lembut dan terkadang memasir, coklat kemerahan sampai
kekuningan, manis dan mengandung banyak sari buah. Berbiji sampai 12
butir, namun kebanyakan kurang dari 6, lonjong pipih, hitam atau
kecoklatan mengkilap, panjang lk. 2 cm, keping biji berwarna putih
lilin. Rasa ini sangat manis dan sangat lezat, dengan apa yang bisa
digambarkan sebagai rasa mabuk. Banyak yang percaya rasa beruang yang
mencolok kemiripan dengan karamel. Buah yang mentah sulit sentuhan dan
mengandung jumlah tinggi saponin, yang telah zat yang mirip dengan sifat
tannin, pengeringan dari mulut.
Ekologi :
Sawo manila banyak ditanam di
daerah dataran rendah, meski dapat tumbuh dengan baik hingga ketinggian
sekitar 2500 m dpl. Pohon sawo tahan terhadap kekeringan, salinitas yang
agak tinggi, dan tiupan angin keras. Tanah yang paling cocok adalah
tanah lempung berpasir yang subur dan berpengairan baik.
Sawo
dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun, akan tetapi pada umumnya
terdapat satu atau dua musim berbuah puncak. Di Thailand, musim puncak
ini berkisar antara bulan September hingga Desember, sedangkan di
Filipina antara Desember – Februari.
Di India, buah akan matang
pada umur sekitar 29 minggu. Buah ini biasanya dipanen dengan hati-hati
dari tangkainya, ditaruh di atas tanah atau direndam air agar getahnya
habis keluar, lalu dicuci dan digosok kulitnya untuk membuang
sisik-sisik di bagian luar.
Kegunaan :
Sawo manila
merupakan buah yang sangat populer di Asia Tenggara. Wilayah ini adalah
produsen dan sekaligus konsumen utama buah ini di dunia. Sawo disukai
terutama karena rasanya yang manis dan daging buahnya yang lembut.
Kebanyakan buah sawo manila dimakan dalam keadaan segar. Akan tetapi
sawo dapat pula diolah menjadi serbat (sherbet), dicampurkan ke dalam es
krim, atau dijadikan selai. Sari buah sawo dapat dipekatkan menjadi
sirup, atau difermentasi menjadi anggur atau cuka.
Getah pohon
sawo disadap di Amerika, dikentalkan menjadi chicle yang merupakan bahan
permen karet alami. Getah ini juga diolah menjadi aneka bahan baku
industri sebagai pengganti getah perca dan bahan penambal gigi.
Kayu sawo berkualitas bagus, tergolong kayu keras dan berat, dengan
tekstur halus dan pola warna yang menarik. Kayu ini terutama disukai
sebagai bahan perabot dan ukir-ukiran, termasuk untuk pembuatan patung,
karena sifatnya yang mudah dikerjakan dan mudah dipelitur dengan hasil
yang baik. Kayu sawo memiliki keawetan yang baik, tahan terhadap
serangan jamur dan serangga. Kayu ini juga merupakan favorit anak-anak
di Jawa untuk membuat gasing.
Kulit kayunya menghasilkan tanin,
yang secara tradisional digunakan nelayan sebagai bahan pencelup (ubar)
layar dan alat pancing. Beberapa bagian pohon sawo juga digunakan
sebagai bahan obat tradisional untuk mengatasi diare (tanin), demam
(tanin dan biji), dan bahan bedak untuk memulihkan tubuh sehabis
bersalin (bunga).
Sumber : situs tumbuhan






Tidak ada komentar:
Posting Komentar